Jakarta, Pasar keuangan domestik bergerak bergairah pada perdagangan Selasa sore.
Mata uang garuda sukses mencatatkan performa gemilang dengan menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Stimulus utama penguatan ini dimotori oleh langkah berani Bank Indonesia (BI) yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terbaru.
Berdasarkan data pasar pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar (kurs) rupiah melesat sebesar 130 poin atau menguat 0,71 persen ke posisi Rp18.058 per dolar AS.
Posisi ini membaik secara signifikan dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang sempat tertahan di level Rp18.188 per dolar AS.
Sinergi penguatan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.
Mata uang rupiah pada menanjak ke level Rp18.141 per dolar AS, menguat dari hari sebelumnya yang berada di posisi Rp18.171 per dolar AS.
Strategi Pre-emptive BI: BI-Rate Naik Jadi 5,50%
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa performa impresif rupiah hari ini tidak lepas dari respons positif pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.
Secara mengejutkan namun terukur, BI mengatrol suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis points (bps) hingga mencapai level 5,50 persen.
“Kebijakan menaikkan BI-Rate ini merupakan langkah taktis sekaligus lanjutan (pre-emptive) untuk memperkokoh benteng stabilitas nilai tukar rupiah. Ini sangat diperlukan guna memitigasi tingginya ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah,” ujar Ibrahim dalam analisis tertulisnya.
Selain memperkuat rupiah, Ibrahim menambahkan bahwa pengetatan moneter ini bertujuan jangka panjang.
BI berupaya mengamankan jangkar inflasi domestik untuk periode 2026 dan 2027 agar tetap adaptif dan konsisten berada pada rentang target sasaran pemerintah, yakni 2,5±1%.
Memicu Arus Modal Asing Masuk (Inflow)
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan menaikkan suku bunga acuan ini diambil setelah melalui evaluasi mendalam pasca-RDG bulanan yang digelar pada 19-20 Mei 2026.
Perry mengakui, pergerakan nilai tukar rupiah belakangan ini sempat melemah melampaui perkiraan awal bank sentral.
Menurut Perry, ada tiga faktor utama yang sempat menekan rupiah:
Ketegangan geopolitik global yang belum mereda.
Tingginya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri untuk kebutuhan musiman dan korporasi.
Aksi ambil untung (capital outflow) di mana investor asing sempat menarik portofolio investasinya dari pasar keuangan domestik.
Oleh karena itu, kenaikan BI-Rate diharapkan mampu menjadi magnet baru bagi para investor global.
“Kami berkomitmen meningkatkan daya tarik imbal hasil investasi di Indonesia. Dengan yield yang lebih kompetitif dan berbagai insentif strategis lainnya, kami optimistis aliran modal asing (portfolio inflow) akan kembali deras masuk ke tanah air, yang pada gilirannya akan memperkuat fundamental rupiah,” jelas Perry Warjiyo.
Isyarat Damai di Timur Tengah Beri Angin Segar
Selain faktor domestik, sentimen positif juga berembus dari meredanya tensi konflik di Timur Tengah.
Ketegangan bersenjata antara Iran dan Israel dilaporkan mulai memasuki fase jeda (gencatan senjata de facto), di mana kedua belah pihak telah menghentikan aksi saling serang langsung.
Meskipun pihak Teheran sempat menegaskan siap meluncurkan serangan balasan jika Israel kembali memprovokasi atau menyerang posisi Hizbullah di Lebanon, pasar global cenderung merespons situasi teranyar dengan optimisme.
Laporan dari media lokal Israeli Hayom menyebutkan bahwa Tel Aviv dan Washington telah mengirimkan sinyal diplomatik kuat kepada Teheran.
AS dan Israel menjamin tidak akan ada operasi militer lanjutan, dengan syarat Iran tidak memulai kembali konfrontasi baru.
Pereda ketegangan geopolitik ini membuat indeks dolar AS sedikit melandai, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, untuk melakukan rebound secara maksimal.








